Minggu, 22 Februari 2009

Gallery Kaligrafi - (3)















Sumber : Google Image (Kaligrafi)

Senin, 16 Februari 2009

Gallery Kaligrafi - (2)





























Sumber : www.myQuran.com

Minggu, 01 Februari 2009

Gallery Kaligrafi - Koleksi Musholla Nurul Huda
















Untuk melihat gambar penuh, silahkan klik >> masing-masing Kaligrafi

Ucapan Terima Kasih,

Kepada Bpk. H. Imam Rozali Fatar
Dewan Keluarga "Masjid Al-Kahfi", Margahayu Raya, Bandung,
Yang telah mengirimkan koleksi kaligrafinya ke :
webblog "Musholla Nurul Huda".
Jazakumullah Khair.

Posting : Drs. H. Umar Hapsoro Ishak

Rabu, 21 Januari 2009

Jalan Menuju Qana'ah

Qana'ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata´ala apa adanya) adalah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.


Namun meskipun demikian kita dituntut untuk memerangi hawa nafsu supaya bisa menekan sifat tamak dan membimbingnya menuju sikap zuhud dan qana'ah. Berikut ini beberapa kiat menuju qana'ah yang jika kita laksanakan maka dengan izin Allah seseorang akan dapat merealisasikan nya. Di antaranya yaitu:

1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata´ala.

Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata´ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.

Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis.

Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu `anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di antaranya, "Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya." (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata´ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur'an yang Agung.

Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). `Amir bin Abdi Qais pernah berkata, "Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu) :

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Fathiir:2)

"Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki- Nya di antara hamba-hamba- Nya." (QS.Yunus:107)

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Huud:6)

"Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (QS. ath-Thalaq:7)

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki

Di antara hikmah Allah subhanahu wata´ala menentu kan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.

Allah subhanahu wata´ala berfirman,

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." (QS. az-Zukhruf:32)

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS.Al an'am 165)

5. Banyak Memohon Qana'ah kepada Allah

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam adalah manusia yang paling qana'ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah subhanahu wata´ala agar diberikan qana'ah, beliau bedoa,

"Ya Allah berikan aku sikap qana'ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik." (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi)

Dan karena saking qana'ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata´ala kecuali sekedar cukup untuk kehidupan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, "Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja." (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian

Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.

Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana'ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia

Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu `alaihi wasallam,
"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?

8. Membaca Kehidupan Salaf

Yakni melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana'ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.

9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta

Bahwa harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.

Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.

10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda.

Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).

Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda´ radhiyallahu `anhu, "Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya."

Sumber : "Al-Qana´ah, mafhumuha, manafi´uha, ath-thariq ilaiha," hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil. [alsofwa]

Posted by : Drs. H. Umar Hapsoro Ishak

Senin, 19 Januari 2009

Membantu Korban Banjir


Kegiatan Musholla Nurul Huda
Membantu Korban Bajir

H
ari Ahad (minggu, 18 Januari 2009), Jamaah Musholla Nurul Huda kelihatan sibuk menyusun dan mendata sumbangan-sumbangan yang masuk di sekretariat Musholla, berupa sembako yang selanjutnya akan disalurkan untuk membantu korban banjir di wilayah Kel. Bukit Duri, dan di wilayah Rw. 03 Kel. Kebon Baru, Kec. Tebet, Jakarta Selatan.


Dipimpin oleh Ustd. Drs. H. Ahmad Fuad Hasan (Wk. Ketua Musholla Nurul Huda), yang kebetulan juga sebagai Ketua Rw. 02 Kel. Menteng Dalam, didampingi Sekretaris Pengurus Mushola Bpk. Agus Surahman, dan Bpk. M. Iman (Wk. Ketua Rw. 02), beserta ketua-ketua Rt. di lingkungan Rw. 02, a.l ; M. Yazid (Ketua Rt.01), M. Yunus (Ketua Rt. 04), Safarudin Ahmad (Ketua Rt. 06, M. Syahri (Ketua Rt. 07), Abdullah AR (Ketua Rt.08), Agus Surahman (Ketua Rt.09), Ahmad Sofyan (Ketua Rt. 10), bersama pengurus dan sebagian jamaah Nurul Huda, menyalurkan sembako yang berhasil dikumpulkan ke wilayah-wilayah korban bajir di lingkungan Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini telah menjadi agenda rutin, yang hampir setiap tahun dilaksanakan oleh pengurus Musholla Nurul Huda, yang bekerja-sama dengan pengurus Rw.02, Kel. Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Dimana kegiatan kali ini juga mendapat dukungan dan apresiasi dari Lurah Menteng Dalam, yang dinilai sebagai wujud kepedulian sesama warga masyarakat, dan diharapkan dapat dijadikan contoh untuk wilayah-wilayah lain, khususnya di lingkungan Kelurahan Menteng Dalam, Jak-Sel.

Semoga segala amal kebajikan dala bentuk kepedulian warga masyarakat, khususnya Pengurus Musholla, Pengurus RW. 02, Pengurus Rt. di wilayah Rw. 02, dan partisipasi jamaah dan warga masyarakat dilingkungana Rw.02, Kel. Menteng Dalam, Jak-Sel, mendapat ganjaran dan ridho Allah SWT. Amin

Sumbet : M. Syahri - Ketua Rt. 07/02, Kel. Menteng Dalam
Posting : Drs. H. Umar Hapsoro Ishak


Minggu, 18 Januari 2009

Info Sehat ala Rasulullah SAW

Penyakit Dan Obat Dalam Sayap Lalat

(Kumpulan Artikel Islami Musholla "Nurul Huda")



Rasulullah SAW bersabda,

"Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya". (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad)

Dalam riwayat lain: "Sungguh pada salah satu sayap lalat ada racun dan pada sayap lainnya obat, maka apabila ia mengenai makananmu maka perhatikanlah lalat itu ketika hinggap di makananmu, sebab ia mendahulukan racunnya dan mengakhirkan obatnya". (HR. Ahmad, Ibn Majah).

Diantara mu'jizat kenabian Rasulullah dari aspek kedokteran yang harus ditulis dengan tinta emas oleh sejarah kedokteran adalah alat pembuat sakit dan alat pembuat obat pada kedua sayap lalat sudah beliau ungapkan 14 abad sebelum dunia kedokteran berbicara. Penyebutan lalat pada hadits itu adalah bahwa air tetap suci dan bersih jika dihinggapi lalat yang membawa bakteri penyebab sakit kemudian kita celupkan lalat tersebut agar sayap pembawa obat (penawarnya) pun tercelup ke air.

Percobaan ilmiah kontemporer pun sudah dilakukan untuk mengungkapkan rahasia di balik hadits ini. Bahwasannya ada kekhususan pada salah salah satu sayapnya yang sekaligus menjadi penawar atau obat terhadap bakteri yang berada pada sayap lainnya. Oleh karena itu, apabila seekor lalat dicelupkan ke dalam air keseluruhan badannya, maka bakteri yang ada padanya akan mati, dan hal ini cukup untuk menggagalkan "usaha lalat" dalam meracuni manusia, sebagaimana hal ini pun telah juga ditegaskan secara ilmiah. Yaitu bahwa lalat memproduksi zat sejenis enzim yang sangat kecil yang dinamakan Bakter Yofaj, yaitu tempat tubuhnya bakteri. Tempat ini menjadi tumbuhnya bakteri pembunuh dan bakteri penyembuh yang ukurannya sekitar 20:25 mili mikron. Maka jika seekor lalat mengenai makanan atau minuman, maka harus dicelupkan keseluruhan badan lalat tersebut agar keluar zat penawar bakteri tersebut.

Pengetahuan ini sudah dikemukakan oleh Nabi kita Muhammad sallallahu 'alaihi wasallam dengan gambaran yang menakjubkan bagi siapapun yang menolak hadits tentang lalat tersebut.

Dr. Amin Ridha, Dosen Penyakit Tulang di Jurusan Kedokteran Univ. Iskandariyah, bersama tim-nya telah melakukan penelitian yang mendalam dalam rentang waktu yang cukup lama dan menyeluruh tentang "hadits lalat ini", mereka menemukan dan menegaskan bahwa di dalam rujukan-rujukan kedokteran masa silam ada penjelasan tentang berbagai penyakit yang disebabkan oleh lalat, dan baru di zaman sekarang ini para pakar penyakit bisa mengungkap rahasia ini. Yaitu kurang lebih 30-an tahun yang lalu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri obat berbagai penyakit yang sudah kronis, dan pembusukan yang sudah menahun yang disebabkan oleh lalat.

Ilmu pengetahuan dalam perkembangannya telah menegaskan serta menjelaskan dalam teori ilmiah sesuai dengan kaidah-kaidah kedokteran tentang hadits yang mulia diatas. Dimana, mukjizat ini sudah dikemukakan semenjak dahulu kala, lebih kurang 14 abad yang silam sebelum para pakar kedokteran berhasil mengungkapkannya baru-baru ini dalam penelitian laboratorium yang serba modern dan canggih.

Sumber : http://www.islamicmedicine/ .org
Posting : H. Umar Hapsoro Ishak

Sabtu, 17 Januari 2009

Obat Ujub





Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah tentang obat ujub:

“Apabila kamu mengkhawatirkan ujub terhadap amalanmu, maka perhatikanlah;

1. Ridho siapa yang kamu cari?,
2. Pahala siapa yang kamu harapkan?,
3. Hukuman siapa yang kamu takutkan?,
4. Kesehatan dan nikmat mana yang kamu syukuri?, dan
5. Bencana apa yang kamu ingat?.

Sesungguhnya apabila kamu berfikir tentang salah satu dari beberapa perkara ini, pasti menjadi kecil di matamu amalanmu.”

(Ma’alim Fit Tarbiyah Wad Dakwah, Mawa’idh Al-Imam Asy-Syafi’i, Penyusun Sholih Ahmad Asy-Syami, hlm 9, Maktabah Syamilah)

Penjelasan:

Ujub adalah sifat yang tercela dan dibenci Allah, yaitu seseorang yang bangga terhadap dirinya dan amalnya.

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah memberikan lima resep untuk mengobati sifat ujub tersebut:

▪ Dalam beramal tentu seseorang mencari ridho Allah, dan dia tidak akan mendapatkan ridho Allah apabila ujub terhadap amalnya.

▪ Dalam beramal tentu seseorang mengharapkan pahala Allah, dan dia tidak akan mendapatkan pahala Allah apabila ujub terhadap amalnya.

▪ Dalam beramal tentu seseorang mengharapkan selamat dari hukuman Allah, dan dia tidak akan selamat dari hukuman Allah apabila ujub terhadap amalnya.

▪ Semua amal kita apabila dibandingkan dengan nikmat yang diberikan Allah kepada kita tentu masih lebih banyak nikmat Allah yang kita terima yang harus kita syukuri, padahal kita tidak akan mampu mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan sebenarnya. Lalu apa yang kita banggakan dari amal kita?.

▪ Berapa banyak bencana yang kita diselamatkan Allah darinya, padahal amal kita tidak seberapa dibanding bencana-bencana yang kita diselamatkan darinya. Lalu apa yang kita banggakan dari amal kita?.

Kalau kita renungkan salah satu dari lima resep tersebut pasti akan hilang dari kita sifat ujub yang tercela itu

Sumber : www.hatibening. com
Fadil Fuad Basymeleh